Wed. Mar 3rd, 2021
Impor Indonesia Turun 6,79 Persen jadi USD 10,78 Miliar

Tubuh Pusat Statistik (BPS) menulis nilai import Indonesia pada Oktober 2020 capai USD 10,78 miliar. Angka itu turun 6,79 % dibanding status bulan awalnya yaitu sebesar USD 11,57 miliar

 

“Perubahan import Oktober 2020 ini capai USD 10,78 miliar atau turun 6,79 % dibanding September 2020,” kata Deputi Sektor Statistik Distribusi dan Layanan, Setianto, dalam video konferensi di Kantornya, Jakarta, Senin (16/10).

Pengurangan import itu bersamaan dengan berlangsungnya pengurangan pada bidang migas dan non migas. Di mana, status import migas pada Oktober turun 8,03 % jadi USD 1,08 miliar. Selanjutnya untuk nonmigas turun 6,65 % jadi USD 9,70 miliar.

Sesaat bila dibanding status import pada masa sama tahun kemarin nilai import telah turun cukup berarti yaitu 26,93 %. Tentang hal status impot ada Oktober 2019 terdaftar sebesar USD14,76 miliar.

Ia menjelaskan, menurut bidang import pada Oktober 2020 kesemuaannya memberikan pengurangan mengagumkan. Di mana import konsumsi terdaftar turun sejumlah 7,58 % atau terdaftar sebesar USD 1,03 miliar pada Oktober 2020.

Selanjutnya, untuk bahan baku atau penolong turun 5,00 % atau sama dengan USD 7,90 miliar. Seterusnya untuk barang modal turun juga sejumlah 13,33 % jadi USD1,85 miliar.

“Jika kita saksikan sharenya bahan baku atau penolong pada Oktober ini sejumlah 73,25 % dari keseluruhan import 2020,” pungkas ia.

Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Supramanto pastikan keikusertaan Indonesia dalam kesepakatan dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) tidak membuat negara ini kebanjiran import.

Bahkan juga, ia memperjelas bila sejumlah besar pembicaraan kerja sama ini akan memberikan keuntungan Indonesia. “Jadi satu kali lagi saya pengin tegaskan adanya RCEP ini tidak ada kebanjiran import,” katanya dalam pertemuan jurnalis, Minggu (15/11/2020).

Ia memperjelas, Indonesia tetap selective dalam lakukan import. Intinya untuk bahan baku.

Direktur Jenderal Pembicaraan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo tidak menolak, Indonesia sendiri masih membutuhkan import bahan baku yang tidak dapat dibuat dalam negeri. Ditambah, hal tersebut dirasa oleh semua-semua negara.

“Tapi yang perlu exportnya didorong kuat-kuat sebab jika kita berbicara berkenaan teror import, seluruh negara RCEP alami teror import sebenarnya,” terangnya.

Awalnya, Kementerian Perdagangan memaparkan deretan keuntungan Indonesia dalam rencana Kesepakatan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Diantaranya, tingkatkan bidang perdagangan sampai investasi di Indonesia.

Berdasar hasil analisis dalam lima tahun di depan RCEP mempunyai potensi tingkatkan keseluruhan export Indonesia ke beberapa negara peserta capai 8-11 %. Sesaat investasi ke Indonesia diprediksi capai 18-22 %.

“RCEP adalah ide secara berani yang dicetuskan Indonesia untuk menjaga sentralitas Asean masuk global nilai chain lebih dalam,” papar ia.

Kesepakatan RCE jadi proses panjang pembicaraan dilakukan dalam pleno sekitar 31 perputaran. Disamping itu, kesepakatan kerja sama itu dikerjakan dalam pembicaraan intersesi tingkat grup atau tingkat menteri.

“Usaha keras kita sepanjang delapan tahu hasilkan dengan tebal 14.367 halaman, terdiri dari dalam 20 bab dan 54 scadule loyalitas yang mengikat 15 negara pesertanya tiada membutuhkan salter,” ucapnya.

error: Content is protected !!